SUCIKAN DIRI DENGAN ZAKAT

Ust. Agus Sholahuddin, M.H.I (Dewan Pakar BAZNAS Kab. Bojonegoro)

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (dalam Musnad-nya 2/381) ini menegaskan salah satu tujuan dan tugas nabi Muhammad yang terpenting, yaitu menanamkan dasar akhlak mulia dan menyempurnakannya. Hal ini tentunya menunjukkan urgensi, peran penting tazkiyatun nufus dan pengaruh besarnya dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sesuai dengan manhaj kenabian.

Misi ini pula yang menjadi alasan diutusnya para Rasul sebelum nabi Muhammad, seluruhnya berdakwah kepada pensucian jiwa umat manusia. Karena hanya dengan jiwa yang bersih dan akhlak mulia yang akan menuntun manusia mewujudkan misi yang lebih besar, menjadi kahlifah di bumi.

Untuk menopang misi kerasulan ini, Allah mewajibkan beberapa kewajiban kepada umat manusia yang jika dilakukan akan bernilai ibadah dan berpahala. Sayang, manusia seringkali saat menjalankan suatu ibadah, hanya melihat dari sisi perolehan pahala semata dan tidak pernah menengok betapa seluruh ibadah yang diwajibkan itu muaranya kepada penyempurnaan akhlaq. Seluruh ibadah berorientasi pada penyucian jiwa.

Bukankah pada akhir ayat yang berbicara tentang kewajiban puasa (QS. Al Baqarah : 183), kita menemukan kalimat La’allakum Tattaquun yang artinya: “Supaya kalian menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa”?. Pribadi yang bertakwa tentu saja adalah yang berakhlaq mulia.

Bukankah saat menjelaskan ibadah haji, al-qur’an menyatakan “tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqarah: 197)?. Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menahan dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang saat menjalankan ibadah haji. Sehingga seusai menjalankan ibadah haji seseorang diharapkan mengamalkan pesan moral yang diperoleh ketika berhaji dengan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari dan mampu menjadi role model bagi masyarakat yang berakhlak mulia.

Bukankah pada ayat tentang kewajiban sholat al-qur’an memberikan garansi bahwa siapapun yang menjaga sholatnya dengan baik ia akan menjadi orang yang berakhlak, yang akan senantiasa menjauh dari perbuatan keji dan kemungkaran (QS. Al Ankabut ayat 45)?.

Begitu pula dengan zakat, simaklah firman Allah yang artinya:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah, 103)

Subhanallah, ayat ini mengisyaratkan bahwa zakat dapat menyucikan diri dari dosa, memurnikan jiwa (tazkiyatun nafs), menumbuhkan akhlak mulia.

Bagaimana tidak, zakat merupakan ibadah mâliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan golongan miskin.

Pada hakikatnya, harta yang tidak dizakati adalah harta yang kotor dan tidak bersih, karena mengandung rasa tidak bersyukur kepada Allah. Hati pemiliknya menjadi begitu sempit, mementingkan diri sendiri dan memuja harta, sehingga ia merasa berat untuk memberikan apa yang seharusnya diberikan sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kekayaan.

Untuk itu marilah bersihkan diri dengan berzakat, sucikan jiwa dan damaikan batin dengan berbagi, tenteramkan hati dengan membebaskan diri dari tuntutan Allah SWT.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Advertisements
This entry was posted in Daftar Artikel and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s